Kini tiada lagi candamu disela-sela kami Tiada lagi senyumanmu yang membalut kesepian kami Tiada sesal mengenangmu karena bersamamu itu adalah indah Mengenangmu adalah karunia dari-Nya Meski kita harus berpisah Tapi tiada pernah terlupa Bahwa ada kenangan yang tak akan tergantikan Air mata ini akan berubah menjadi titian doa bagimu Semoga kebaikanmu mengiringi langkahmu menuju kedamaian Kekal bersama keabadian Kawan… Tersenyumlah bersama indahnya bintang-bintang dilangit Selamat jalan sobat
Seperti yang telah kita ketahui, baik dari membaca atau mendengar dari para guru kita, bahwa Rosul Saw merupakan manusia mulia yang diutus oleh Allah swt untuk memperbaiki dekadensi moral yang sangat akut pada saat itu, yaitu pada saat dimana para wanita tidak ada harganya sama sekali, dimana seks bebas bisa ditemui di sudut-sudut kota, dimana ketentuan pernikahan tidak jelas sama sekali, dan dimana setiap anak yang lahir dengan kelamin perempuan langsung dibunuh hidup-hidup, itulah zaman kelam Jahiliyah. Disebut zaman Jahiliyah (atau kegelapan) karena pada zaman tersebut penuh dengan perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan kemanusiaan, semua berjalan tanpa aturan yang jelas, yaitu aturan yang bisa mengantarkan mereka kepada tatanan masyarakat yang berkeadilan, bermoral, dan bersikap serta berbuat sebagai manusia beradab. Beberapa contoh di atas merupakan keadaan sosial masyarakat Jahiliyah yang berkembang sebelum Islam muncul dan diajarkan oleh Rosulallah saw. Mungkinkah perilaku Jahiliyah berkembang lagi di masyarakat modern kita sekarang ini? Mungkinkah masyarakat sekarang malah melebihi perilaku Jahiliyah masa lalu? Marilah sejenak kita melihat persoalan-persoalan yang terjadi di masa sekarang ini. Kita ingat beberapa bulan terakhir ini kasus aborsi (pengguguran anak dalam kandungan) marak diberitakan oleh media. Dimana lebih kurang puluhan kasus aborsi ditemukan di Negara yang mayoritas muslim dan beragama ini. Kasus tersebut merupakan sampel dari sekian banyaknya kasus-kasus aborsi yang tidak ditemukan (maksudnya, masih banyak kasus serupa yang terjadi di negeri kita ini). Aborsi merupakan kasus yang bersifat sistemik, dimana terjadinya kasus aborsi diakibatkan karena peristiwa-peristiwa sebelumnya, seperti tidak dikehendakinya janin dalam kandungan lahir di dunia, yang entah diakibatkan hamil di luar nikah, pergaulan bebas yang merebak karena dibumbui tayangan-tayangan televisi atau film yang mengekspos kefulgaran. Yang paling berperan adalah diakibatkan kurangnya nilai-nilai agama yang benar-benar tertanam dalam jiwa setiap manusia. Menyikapi masalah aborsi ini, mari kita lihat pada zaman Jahiliyah. Ketika zaman Jahiliyah berkembang banyak anak-anak perempuan yang lahir langsung dibunuh hidup-hidup. Sehingga Umar bin Khottob pun pernah membunuh anaknya ketika di ketahui berjenis kelamin perempuan. Saat istrinya melahirkan anak perempuan maka istrinya menutupi jenis kelamin anaknya kepada Umar sampai usia sekitar 7 tahunan. Suatu ketika Umar mengajak ia berburu, anak tersebut kebelet mau buang hajat. Nah, disinilah kemudian Umar mengetahui ternyata selama ini anaknya berjenis kelamin perempuan, dan yang sangat membuat dia marah adalah kenapa selama ini istrinya telah berbohong kepadanya. Lalu tanpa basa-basi dibuatlah lubang untuk mengubur hidup-hidup anaknya tersebut. Kejadian inilah yang kemudian menjadikan penyesalan setelah Beliau masuk Islam. Bahkan disetiap doa beliau menangis teringat kejadian tersebut. Masyarakat Jahiliyah membunuh anak mereka ketika diketahui berjenis kelamin perempuan lahir. Lain halnya lagi dengan masyarakat kita sekarang ini, ketika seorang perempuan hamil entah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, (entah malu karena belum menikah atau karena pergaulan bebas) maka tidak sampai menunggu lahirpun, bayinya sudah dibunuh terlebih dahulu (aborsi). Masyarakat Jahiliyah menunggu sampai lahir, akan tetapi sekarang, masih di dalam kandunganpun sudah dibinasakan terlebih dahulu. Nauzubillahi min dzalik. Siapakah yang lebih Jahiliyah? Masyarakat dulu atau sekarang? Oleh karena itu, nilai-nilai agama harus selalu kita tanamkan kepada setiap generasi penerus bangsa kita ini. Jangan sampai generasi penerus kita berperilaku sebagaimana perilaku masyarakat Jahiliyah masa lampau. Mari kita tanggap disetiap kegiatan-kegiatan atau event-event yang menjurus ke arah kemaksiatan dan cabul. Kita jaga anak-anak kita dari setiap pergaulannya, dengan siapa dia bergaul, dimana mereka bergaul, dan sebagainya. Kita tuntun generasi penerus kita menjadi generasi yang ber-akhlaqul karimah dan sekaligus mampu bersaing di kancah dunia global (sukses menggapai dunia dan sukses menggapai akhirat). Bagaimanapun juga, Mencegah merupakan langkah yang terbaik daripada memperbaiki. Akhirnya… Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan Barokah. Amin ya robbal’alamin. Wallahu alam bish-showab
Ketika kekalahan, tragedi, kelaparan, dan pembantaian mendera jasad Islam kita, kita selalu saja menyoal dua hal : konspirasi Barat dan lemahnya persatuan umat Islam. Tangan-tangan syetan Yahudi seakan merambah di balik setiap musibah yang menimpa kita. Dan kita selalu tak sanggup membendung itu, karena persatuan kita lemah.
Mari kita membicarakan tentang persatuan, sejenak, dari sisi lain. Ada banyak faktor yang dapat mempersatukan kita : aqidah, sejarah, dan bahasa. Tapi semua faktor tadi tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang sering mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, ashabiyah, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar.
Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyoal masalah persatuan. Tapi di sisi lain yang sebenarnya mungkin teramat remeh, ingin ditampilkan di sini.
Persatuan ternyata merupakan refleksi dari “suasana jiwa”. Ia bukan sekedar consensus bersama. Ia, sekali lagi, adalah refleksi dari “suasana jiwa”. Persatuan hanya bisa tercipta di tengah suasana jiwa tertentu dan tak akan terwujud dalam suasana jiwa yang lain. Suasana jiwa yang memungkinkan tercipta persatuan, harus ada pada skala individu dan jamaah.
Tingkatan ukhuwwah (maraatibul ukhuwwah) yang disebut Rasulallah saw., mulai dari salaamatul shadr hingga itsar, semuanya menyacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak “permadani”. Ia dapat diduduki oleh yang kecil dan besar, alim dan awam, remaja atau dewasa. Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan ‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.
Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari mimpi buruk “kemahahebatan”, “kemahatahuan”, “keserbabisaan”. Ia juga terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari karya dan kepribadian orang lain.
Jiwa seperti itu sepenuhnya merdeka dari ‘narisme’ individu atau kelompok. Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang dapat ia berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ‘inginkan’ dari orang atau kelompok tersebut.
Salah satu kehebatan tarbiyah Rasulullah saw., bahwa beliau berhasil melahirkan dan mengumpulkan manusia-manusia ‘besar’ tanpa satupun di antara mereka yang merasakan ‘terkalahkan’ oleh yang lain. Setiap mereka tidak berpikir bagaimana menjadi ‘lebih besar’ dari yang lain, kebanyakan mereka berpikir bagaimana mengoptimalisasikan seluruh potensi yang ada pada dirinya dan mengadopsi sebanyak mungkin ‘keistimewaan’ yang ada pada diri orang lain.
Umar bi Khatthab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulallah saw. yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, qiyadah, akhlak, dan lainya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak ‘menghalangi’ beliau untuk berambisi menjadi ‘sehelai rambut dalam dada Abu Bakar’. Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk “kemahahebatan”.
Semoga melalui tulisan ini, kita senantiasa berusaha untuk menuju langkah menggapai istana “persatuan” yang kokoh. Dengan begitu Islam akan semakin eksis di sepanjang masa. Wallahu a’lam bishshowab.
Semua dewan guru tampak kelelahan guna mempersiapkan segala hal yang akan dinilai oleh tim assesor (sebelum hari H)
Setelah lembur beberapa hari sampe nggak tidur, bu Pudya pun kecapean dech...
disusul dengan Pak Agus yang tidak kenal tempat, ia tertidur dengan pulasnya...
Akhirnya hari H pun yang ditunggu-tunggu datang juga.... Sebagai Mukodimah dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menjadi Pembawa Acara dalam kegiatan Akreditasi...
Sambutan pertama diawali dari Kepala Sekolah - Bp. Drs. Aminudin
Dilanjutkan sambutan yang kedua dari Pengurus SMA Wahid Hasyim Tersono, Bp. KH. Nurudin Fauzan
Terus menyusul sambutan yang ketiga dari Tim Assesor, diwakili oleh Bp. Drs. Sutarman
Para Dewan Guru, Karyawan, Pengurus serta Komite sedang serius mengikuti acara pembukaan Akreditasi
Sebagai pungkasan, acara ditutup dengan doa, yang pimpin oleh Bp. K. Zaeni Ahma (Pengurus SMA Wahid Hasyim Tersono)