Sabtu, 05 Februari 2011

Merangsang Aktivitas Baca-Tulis Siswa melalui Mading Sekolah

Majalah dinding atau mading merupakan media komunikasi yang telah dikenal lama oleh masyarakat. Mading tidak hanya dibuat oleh siswa di sekolah, namun juga diciptakan dan dikonsumsi oleh masyarakat umum.

Saat mendengar kata mading, sesuai kepanjangannya, majalah dinding, tentu saja yang terbayang dalam benak kita adalah majalah yang terpasang di dinding. Anggapan itu tidak keliru karena prinsip dasar yang ada pada mading layaknya pada majalah. Penyajiannya menggunakan media papan (tripleks, karton, gabus, atau bahan lain) yang dipampang pada dinding. Rubrik-rubrik mading sama dengan rubrik-rubrik majalah. Tata letak mading juga tidak jauh berbeda dengan majalah pada umumnya, hanya saja dalam mading lebih sederhana, semua rubrik ditempatkan pada satu halaman atau muka saja.

Materi mading itu sendiri, menyesuaikan tempat mading itu berada. Mading yang ditempatkan di sekolah tingkat SMP/MTs dan SMU/MA berisi tulisan-tulisan yang disesuaikan dengan karakter sekolah-sekolah tersebut. Selain tulisan, mading juga dilengkapi gambar, misal karikatur atau gambar lain. Hanya saja, untuk tingkat tersebut tulisan tetap lebih dominan. Sementara itu, pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, seperti SD dan TK, gambar lebih dominan daripada tulisan.

Ragam Tulisan Mading

Rubrik mading sekolah dapat beragam sesuai kreativitas pengelola dan kebutuhan pembaca atau warga sebuah sekolah. Rubrik yang dihadirkan untuk sekolah menengah (SMP-SMA dan MTs-MA) didominasi oleh tulisan jurnalisme, opini, dan sastra. Sisahnya adalah jatah rubrik yang berhubungan dengan kreativitas seni, misalnya fotografi dan album foto, komik pendek, karikatur, lukisan, ilustrasi, dan sebagainya.

Nursisto (2003: 29-38) mengungkapkan, tulisan yang lazim muncul dalam mading adalah spot news, feature, dan reportase. Reportase sebenarnya hanyalah proses dalam pengumpulan data. Jadi, pengelompokan tulisan yang mungkin dilakukan di mading adalah news, feature, opini, dan sastra. News adalah tulisan yang disajikan secara langsung dan apa adanya yang biasanya menjadi andalan surat kabar harian. News dibangun dengan sistem 5W + 1H (what, who, where, when, why, dan how). What mengupas apa yang terjadi, who berkenaan dengan pelaku peristiwa, where memuat tempat terjadi peristiwa yang diberitakan, when bersinggungan dengan waktu terjadi peristiwa, why menjawab masalah sebab terjadi peristiwa, dan how menghadirkan informasi tentang bagaimana kejadiannya. Pada majalah dinding, news biasanya hanya berupa tulisan pendek, bahkan kadangkala hanya ditampilkan dalam bentuk berita foto yang disertai caption (tulisan di bawah foto atau gambar yang berfungi sebagai keterangan).

Tulisan feature bisa dikatakan lebih ringan daripada berita (dan artikel opini). Namun, bukan berarti feature bisa dianggap enteng. Ciri khas feature adalah bagaimana penulis berkreativitas (dalam menulis), menyajikan tulisan yang informatif (isinya), dan menghibur (cara penyajian, bahasa, dan penuturannya). Tulisan jenis ini terbagi menjadi news feature, science feature, dan human interest feature. News feature muncul bersamaan dengan terjadinya peristiwa (tepatnya beberapa saat setelah peristiwa terjadi). Berita disajikan dengan disertai proses terjadinya. Science feature ditandai dengan kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan. Sementara itu, human interest feature adalah feature yang lebih banyak menuturkan situasi yang menimpa seesorang dengan cara penyajian yang menyentuh hati dan menyentil perasaan (Suroso, 2001: 94).

Baik news maupun feature, harus ditulis berdasarkan proses reportase. Proses reportase dilakukan melalui observasi, interview (wawancara), hingga riset (penelitian atau pengamatan intensif dan cermat baik secara langsung maupun dengan studi pustaka).

Jenis tulisan yang juga menjadi favorit mading dan surat kabar pada umumnya adalah artikel opini. Menurut Suroso (2001), artikel opini merupakan tulisan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang ditulis dengan bahasa ilmiah populer. Atikel opini ini terbagi menjadi pengetahuan populer, penuntun praktis (guidance), politik, olahraga, dan kebudayaan. Data untuk penulisan artikel ini dapat diperoleh melalui wawancara, penelitian atau penyelidikan langsung, dan bahan cetakan.

Terdapat perbedaan mendasar antara tulisan feature (dan news) dengan artikel opini. Suroso (2001: 96-97) mengungkap bahwa artikel opini membuat orang berpikir dan isinya menyangkut analisis, pendapat, saran, yang penuh muatan sebab-musabab. Tulisan opini didorong oleh alasan-alasan ilmiah yang mengandung resiko polemik, baik yang bersifat mendukung maupun membantah. Hal ini berbeda dengan feature, feature lebih bersifat rileks, berpengaruh pada perasaan pembaca, membuat pembaca menjadi senang, terharu, bersemangat, bahkan menangis. Walaupun begitu, setiap media mempunyai gaya sendiri dalam menyampaikan tulisan-tulisannya.

Kemudian, jenis keempat yang kerap menghiasi wajah mading adalah jenis tulisan sastra, yaitu cerbung, cerpen, dan puisi. Namun, lazimnya, yang terpublikasi hanyalah cerpen dan puisi, sementara cerbung jarang ditampilkan berkenaan sulitnya mendapatkan tulisan yang bermutu dan layak untuk diterbitkan di mading.

Untuk menghadirkan semua jenis tulisan tersebut pengelola (redaktur tiap-tiap rubrik) harus memberitahukannya secara luas pada semua warga sekolah, misalnya melalui pemberitaan pada edisi sebelumnya, pada majalah-majalah biasanya tertulis: Tema Edisi Depan (Berikutnya). Melalui pemberitaan tersebut, para siswa, karyawan, dan guru memiliki informasi yang jelas dan waktu cukup untuk menulis sesuai minatnya. Dalam pengumpulan tulisan tersebut, pengelola harus membatasi waktu penyerahan tulisan dengan menyisahkan waktu untuk proses penenerbitan, mulai penyeleksian, editing atau penyuntingan, hingga layout atau perwajahan. Untuk itu, para redaktur harus memilih naskah terbaik secara objektif.

Manfaat Mading

Banyak manfaat yang diperoleh dari mading. Mading dapat dijadikan media komunikasi. Tulisan pada mading merupakan bentuk komunikasi antarpihak tertentu. Tulisan tersebut menghadirkan informasi atau peristiwa yang terjadi dalam lingkup tertentu pula. Sebagai contoh, mading di sekolah, tentu akan menuliskan berita berkenaan dengan kegiatan atau info sekolah, hal yang tidak akan didapatkan dari koran atau majalah pada umumnya. Pembaca mading yang merasa berkepentingan dengan berita tersebut barangkali tidak hanya sekadar membaca, namun juga merespons atau menanggapinya. Di sinilah akan terjadi komunikasi antara redaksi mading dengan pembaca, antara pembaca dengan pembaca lain.

Mading juga dapat dijadikan wadah untuk menampung kreativitas. Mading tidak hanya menampilkan tulisan dalam rubriknya, namun juga kreasi seni visual dan kerajinan. Kreativitas seni tidak hanya mengusung keindahan, akan tetapi juga mempertimbangkan segi ekonomis dan pemanfaatan benda-benda di sekitar. Demikian pula dengan tulisan dalam setiap rubriknya. Redaktur harus jeli memilih berita yang ada di lingkungannya kemudian mengolahnya menjadi berita yang menarik.

Dari mading, redaktur dan pembaca akan banyak belajar. Redaktur mading dalam mempersiapkan lahirnya mading dalam setiap edisinya tentu membutuhkan pengetahuan atau informasi yang tidak sedikit. Tentunya secara tidak langsung siswa ditugasi menulis salah satu tulisan akan banyak membaca. Bagaimana pun juga keterampilan menulis harus dibekali dengan pengetahuan yang luas. Sementara pembaca mading selain mendapatkan informasi dari mading, ia akan termotivasi untuk menggali pengetahuan lebih lanjut. Tulisan dalam mading sifatnya ringkas karena terbatas luasnya media. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut pembaca dapat mencarinya melalui media lain (surat kabar, internet, dsb).

Siswa atau orang-orang yang tergabung dalam redaksi mading akan belajar berorganisasi. Mereka belajar mengurus suatu penerbitan. Dalam menghadirkan sebuah mading perlu proses panjang, mulai dari pengumpulan bahan, penyuntingan hingga penyelesaian. Setiap redaktur mau tidak mau belajar bertanggung jawab menyelesaikan tugas yang diembannya. Tujuannya tidak lain agar mading selesai tepat waktu. Keterlambatan terbitnya mading akan berpengaruh terhadap isi berita yang ditulis. Berita sudah tidak aktual atau basi sehingga kehadiran mading berkurang fungsinya.

Mading dan Aktivitas Baca-Tulis

Dalam belajar bahasa Indonesia ada empat keterampilan yang harus dikuasai siswa. Keempat keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kalau dipasangkan, maka menyimak atau mendengarkan akan berpasangan dengan berbicara, sedangkan membaca berpasangan dengan menulis. Pasangan keterampilan berbahasa tersebut saling mempengaruhi. Aktivitas berbicara dibarengi aktivitas menyimak. Keberhasilan menyimak akan berpengaruh terhadap keterampilan berbicara. Demikian pula dengan keterampilan menulis, keterampilan ini sangat erat hubungannya dengan keterampilan membaca. Menulis merupakan bentuk penuangan ide dari hasil membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang dapat disampaikan melalui tulisan.

Kurikulum KTSP mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs untuk keterampilan membaca dan menulis menuntut siswa untuk dapat menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit, menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca, membedakan antara fakta dan opini, menganalisis nilai-nilai kehidupan dalam cerpen, menulis kreatif puisi, mengubah teks wawancara menjadi narasi, menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar, menyunting karangan, menulis cerpen, serta menulis surat pembaca. Kompetensi dasar yang disyaratkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di atas tidak akan berhasil kalau hanya disampaikan selama 2 x 40 menit di dalam kelas. Materi-materi tersebut sebaiknya dipraktikkan dan terus dilatih agar menjadi keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan anak didik.

Keberadaan mading sangat dekat dengan aktivitas baca-tulis. Sebelum diterbitkan, redaktur akan mengumpulkan naskah atau tulisan. Tulisan dapat berasal dari redakur sendiri maupun kontribusi pembaca. Dalam proses penyaringan naskah tersebut diharapkan ada kompetisi untuk menjadi yang terbaik hingga dipilih oleh redaktur rubrik untuk dimuat. Dalam proses kompetisi tersebut ada proses pembacaan dan pembelajaran menulis.

Para kontributor sebelum mengirimkan naskah setidaknya telah melalui tahapan-tahapan menulis. Tahapan-tahapan tersebut mengumpulkan bahan, menulis artikel, melakukan perbaikan (revising), menyunting (editing), pembacaan percobaan (proof reading), serta memublikasikan (mengirimkan tulisan). Dalam menyunting tulisan, hal yang harus diperhatikan adalah tanda baca, huruf kapital, ejaan, tata bahasa, dan keefektifan kalimat. Pada tahap pembacaan percobaan (proof reading) yang harus dilakukan adalah melakukan pembacaan percobaan, ini sebaiknya dilakukan oleh pihak lain yang tidak ikut menulis naskah tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah cara penyajian dapat diterima dan enak dibaca oleh pembaca, serta apakah materi-materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik (Yuniati, 2008: 39). Dalam pengiriman naskah, kontributor harus jeli mengamati materi rubrik yang akan dibidiknya. Para kontributor dapat belajar dari edisi-edisi sebelumnya. Hal ini dilakukan agar tulisan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan mading sehingga berpeluang untuk dimuat.

Kehadiran mading juga diharapkan mampu memotivasi siswa untuk membaca dan menulis. Asumsinya, siswa akan aktif membaca tulisan yang ada di mading karena yang menulis adalah temannya sendiri atau orang yang dikenal. Hal ini juga akan memberi dorongan siswa untuk menulis seperti yang telah dilakukan temannya. Selain itu, siswa lebih berani untuk mengirimkan tulisannya karena seleksi naskah tidak seketat surat kabar atau majalah yang dikonsumsi masyarakat luas.

Latihan menulis, mau tidak mau akan menguras energi yang tidak sedikit. Wajar saja karena disinyalir bahwa penentu keberhasilan dalam menulis adalah kerja keras. Bahkan, porsinya mencapai 90%. Kerja keras di sini dimaksudkan sebagai aktivitas latihan, ketekunan, dan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dengan selalu belajar. Belajar dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal seperti rutinitas membaca dan menulis.

Akhirnya, bagaimana pun juga aktivitas permadingan dan baca-tulis tidak terlepas dari peran aktif guru. Peran aktif para pendidik tersebut sangat diharapkan berupa motivasi dan teladan dalam membaca dan menulis. Jika para guru tidak mampu memberikan motivasi dan keteladan, berbagai upaya yang dilakukan tidak akan banyak berhasil. Hal yang paling krusial tentu adalah keteladanan, bagaimana para guru meneladankan rutinitas membaca dan kebiasaan menulis pada para siswa akan menentukan perkembangan baca-tulis siswa kemudian hari.

Aktivitas permadingan ini tentu perlu rangsangan lebih dengan mengadakan kegiatan-kegiatan perlombaan, baik tingkat sekolah maupun tingkatan yang lebih luas. Pada peristiwa seperti ini, para siswa dapat mengukur (untuk kemudian meningkatkan) kemampuannya dalam menulis dan mengelola mading. Pada lingkup internal mading sendiri, mungkin dapat dilakukan pemilihan artikel terbaik sepanjang tahun, foto terbaik, dan sebagainya.

Referensi

  1. Nursisto. 1999. Membina Majalah Dinding. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
  2. Suroso. 2001. Menuju Pers Demokrasi. Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan.
  3. Yuniati, Siska. 2008. Menulis Resensi Buku. Yogyakarta: MTs Negeri Giriloyo.
  4. http://mediaksara.wordpress.com/2010/04/04/merangsang-aktivitas-baca-tulis-melalui-mading-sekolah/

Optimalisasi Mading Sekolah

Mading (majalah dinding), penerbitan yang ditempelkan di dinding sekolah, biasanya ditempatkan di tempat strategis. Adapun pengelolanya sama dengan buletin maupun majalah sekolah. Bedanya, jika buletin dan majalah bisa dibawa kemana-mana namun mading untuk membacanya harus berdiam diri ditempat. Untuk rubrikasi tentunya sama saja lebih banyak mading yang dimiliki lebih banyak rubrik yang dikelola.

Dalam mengelola mading akan ditemukan berbagai kendala, diantaranya: pembaca mading. Karena media ini terletak di dinding sehingga tidak setiap siswa mau membacanya. Begitu pula dengan kesungguhan pengelola. Mading biasanya molor terbit gara-gara pengurusnya aktif diberbagai ekstrakurikuler akibatnya penerbitannya kian terbengkelai. Selanjutnya, adalah problema kemalasan siswa non-pengurus untuk mengirimkan karyanya. Perkara-perkara tersebut barangkali yang menjadikan mading menjadi vakum.

Optimalkan Mading
Mengoptimalkan mading sekolah bukanlah perkara yang susah asalkan ada kerjasama antara waka kesiswaan, OSIS, ekstrakulikuler Jurnalistik maupun dengan guru terkait (Bahasa, TIK dan lain-lain). Untuk mengoptimalkannya perlu ditempuh beberapa langkah. Pertama, skedul terbit. Pihak pengelola menarget waktu penerbitan; dwi mingguan, bulanan maupun dwi bulanan. Sehingga, pengelola bisa menentukan rapat redaksi, hunting, menulis, deadline dan masa penerbitan.

Kedua, proses menulis. Pengelola berkewajiban menuliskan hal-hal yang menjadi urusan keredaksian. Ada editorial (tajuk rencana) dan reportase (laporan). Selebihnya, diserahkan kepada seluruh siswa.

Agar maksimal, siswa yang telat ataupun tidak mengerjakan PR bisa ditugasi menulis sesuai kemampuan yang ia bisa. Dengan cara tersebut bank tulisan sudah dikantongi oleh redaksi. Pengelola juga perlu menempelkan pengumuman di kelas-kelas, kantin maupun di madding, isinya seruan untuk mengirimkan karya dalam bentuk apapun.

Ketiga, untuk menarik minat pembaca selain tampilan mading harus menarik, siswa yang karyanya dipublikasikan diberi penghargaan. Maupun perlu disisipi kuis-kuis berhadiah dan teka-teki silang (TTS) yang akan memikat peserta didik berbondong-bondong memadati area mading.

Keempat, menerbitkan bunga rampai. Mading yang telah terbit bisa dijadikan bunga rampai berupa buletin maupun majalah setahun sekali sampai dua kali terbitan. Karya yang masuk, pilihan yang diputuskan oleh redaksi bersama waka kesiswaan maupun guru terkait.

Sementara, untuk pendaan bisa memohon kepada orang tua siswa yang memiliki perusahaan dan berkenan menyumbangkan dananya. Maupun meminta sponsor dan iklan dari perusahaan yang ada di sekitar. Adapun, karya yang tidak masuk bunga rampai dijadikan kliping dan ditempatkan di perpustakaan sekolah maupun disimpan pengelola.

Yang terpenting, untuk mengoptimalkan mading, waka kesiswaan maupun guru terkait harus senantiasa pro-aktif agar siswa-siswi yang selalu diperhatikan mau eksis dalam berkarya. Apalagi, kegiatan ini merupakan ranah praktik. Praktik mata pelajaran Bahasa Indonesia, TIK, Seni Rupa dan sebagainya. Artinya, peserta didik hanya mengaplikasikan materi yang diterima di kelas. Oleh karenanya, dengan mengoptimalkan mading sekolah nantinya tidak ada lagi media dinding yang mangkrak maupun dibiarkan begitu saja. Semoga!

sumber : http://mustaqimmenulis.blogspot.com/2010/10/optimalisasi-mading-sekolah.html

Jumat, 19 November 2010

Omelanku Pada Mereka, Pelitaku Untuk Diriku

Akhir-akhir ini saya merasa semangat utuk Tholabul ilimi sedikit berkurang. Dimana tugas dan kesibukan makin bertambah, apalagi semenjak naik kelas XI, dimana di semua ekstrakulikuler dan organisasi-organisasi kami beralih dari jenjang dari junior menjadi senior. Sempat malu pada diri saya sendiri apabila semuanya hancur karena ulah virus yang sedang menimpa kami. Dimana secara real terlihat, hasil mid semester kami jeblok seiring bertambahnya kesibukan kami. Sampai-sampai wali kelas saya berkoar menyudat kami dengan segala nasehat dan petuah (atau lebih tepatnya omelan) kepada kami.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat ‘berceramah’ kepada junior-junior saya di ekskul Paskibra saat break time. Dimana saya menguraikan poin-poin Motto Paskibra yang kami terapkan dalam kehidupan kami. Kata-kata yang muncul saat itu tidak memperlihatkan bahwa saya adalah senior pemalas yang sedang kacau hidupnya karena berjibaku dengan banyak masalah. Namun, saat itu saya terihat seolah menjadi pencerah bagi mereka dan kata-kata yang muncul sangat ‘nyentrong’ bak orang berwibawa ber wawasan luas (lebih tepatnya “SOK”). Dihari itu saya mangisi acara istirahat disela-sela laihan dengan mengajak ngobrol mereka, sedikit sharng dan bercanda. Namun ditengah itu, saya menyelipkan beberapa poin, pertama, saya ingin membangkitkan semangat, rasa tanggungjawab, dan kedisiplinan yang belum 100% membentuk diri mereka, mengingat sudah hampir 5 bulan mereka menjadi calon anggota Paskibra di SMA saya. Kedua, saya ingin menyampakan uneg-uneg para senior dimana kami sebenarnya kesal dengan ulah mereka yang belum mencerminkan seorang pemuda pilihan yang disorot semua mata dan menjadi maskot sekolah. (Ceilah)

Tibalah saya baru menyadari makna dari kata-kata saya tadi d saat latihan setelah saya merenung di pondok. Begini kurang lebih ringkasannya:

Saya mengingatkan mereka agar lebih semangat dan berdisiplin dengan senjata poin motto Paskibra… Dimana Paskibra itu…

  1. Tidak Takut salah, lalu saya melontarkan pertanyaan, mengapa ketiak mereka diberi aba-aba masih ragu dalam pelaksanaannya? Sejenak mereka terdiam, meresa kadang banyak hal yang diberikan kepada mereka mereka was-was untuk melakukan karena taut salah.
  2. Tidak Takut Kalah, dimana sesuai pengertian saya mengenai poin kali ini yakni termasuk tidak takut malu. “Tapi kenapa kalian masih malu? Masih males? Disuruh kumpul malah nggerundel ga dateng-dateng, disuruh latian males2an, disuruh nglakuin apa pasti bilang ga mau. Yang malu lah, yang ini lah yang itu lah… kapan Indonesia maju klo pemudanya aja masih kaya gitu?”, Omel saya.
  3. Tidak takut Jatuh, artinya mantap dalam setiap keputusan dan langkah yang diambil, tidak takut mencoba dan tidak takut gagal atau lebih tepatnya percaya diri. Sekai lagi saya bertanya, mengapa mereka tidak PD ketika kami bersama-sama melakukan latihan yang notabene-nya ‘nampang’ dtengah lapangan?
  4. Tidak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut hidup, Mati Sekalian. Itulah poin terakhir yang juga membuat saya sadar. Apabila kita sebagai manusia yang telah di beri kehidupan malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Dimana bersemangat pada hal positif adalah salah satu cara memanfaatkan hidup itu. Dan apabila kita malas, sama saja kita membuang kesempatan itu.

Disitulah saya sadar, dari pidato singkat yang saya lontarkan, malah itulah yang membuat saya mengerti bahwa semangat yang meredup dan dibiarkan malah semakin membuat renca kita gagal dan terbengkelai. Jadi, bias diambil kesimpulan, pertama, diri kita agdalah orang yang paling mengerti tentang kita. Dimana terkadang hidayah atau petunjuk yang tersebar disekitar kita yang tak kita sadari, malah sebenarnya ada pada diri kita sendiri… dan kedua, hidup adalah anugerah yang seharusnya tak disia-siakan. Dan salah satu cara memanfaatkannya yaitu dengan bersemangat.

Mungkin tulisan saya terlihat tidak terlalu penting untuk sebagian orang. Tapi saya yakin artikel sederhana dan kurang dari kata sempurna ini Insya Allah bisa bermanfaat. (minimal bisa buad curhat untuk saya pribadi, hehehehe.)

Ikrima El-MarRos

SMA AWeHa Tebuireng-Jombang

Selasa, 20 April 2010

PILIH JOMBLO ATO PACARAN...???

JOMBLO. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?

cinta

Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.

...predikat jomblo begitu menakutkan buat remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini…

So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.

Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)

Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?

Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

…konsep diri remaja yang salah, merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran…

Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!

Kenapa harus pacaran?

Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?

...Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia…

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah SAW:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.

Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan.

...Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran…

Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound: Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

...Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan….

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?

Jomblo Tapi Shalihah

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkerudung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat…

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo! [riafariana/voa-islam.com]